Pintar selalu identik dengan sifat seseorang yang berada di bangku sekolah. Pintar diartikan sebagai anak yang mampu menjawab soal-soal ulangan dan mendapatkan nilai yang tinggi di atas rata-rata. Tidak hanya satu atau dua mata pelajaran saja yang mampu dikuasainya, tetapi mata pelajaran yang dianggap sulit sekalipun seperti matematika mampu untuk dikuasainya tanpa kesulitan yang berarti.

Apakah ini yang diharapkan oleh negara di dalam sistem pendidikan nasional nya? Sepertinya iya…

Buktinya, anak yang berhasil selalu diidentikkan dengan angka-angka yang tertera di rapot atau di kertas-kertas ulangan mereka yang menjadi sebuah patokan institusi tertentu dalam menilai seseorang.

Lalu bagaimana nasib anak-anak yang tidak “pintar” lainnya? Apakah etis mengatakan mereka adalah “bodoh.” Ya sepertinya sekolah dibuat untuk mengkotak-kotakkan mana anak yang pintar dan mana anak yang bodoh.

Dan kalo pun mau jujur, anak yang pintar tadi, gak masuk sekolah aja pasti tetap pintar, dan anak yang bodoh walau harus masuk sekolah tiap hari pun, tetap aja bodoh.

Intinya sekolah tidak membuat seseorang menjadi pintar dan tidak juga membuat orang menjadi bodoh.

Pintar dan bodoh itu hanya istilah keliru karena yang ada hanyalah cepat dan lambat saja.

Anak yang pintar itu lebih cepat paham dan hafal sehingga dia bisa menyerap banyak pelajaran dalam suatu periode tertentu yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Di sisi lain anak yang dikatakan bodoh tadi (di mana merupakan mayoritas) kenyataannya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memahami pelajaran yang diberikan dan tidak bisa dijejali dengan banyak pelajaran sekaligus dalam periode waktu yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Sehingga sekolah di sini seakan-akan memaksa semua anak untuk bisa pintar dalam waktu 1 semester untuk 7 mata pelajaran misalkan.

Mau sampai kapanpun, sekolah tidak akan bisa membuat semua anak menjadi pintar sehingga yang apa yang terjadi, mereka-mereka yang lambat tadi akan makin kesulitan menghadapi pelajaran berikutnya yang membutuhkan kemampuan pemahaman akan pelajaran sebelumnya.

Yang pintar makin pintar, yang bodoh makin bodoh.

Jadi sebenarnya tidak ada istilah pintar atau bodoh di dalam istilah keilmuan menurut saya.

Misalkan ada seorang yang sehari-harinya bekerja di bengkel mobil. Mungkin pada awal-awal pekerjaannya dia banyak melakukan kesalahan dan masih banyak tidak tahunya. Namun, setelah beberapa puluh tahun bekerja dan melakukan hal yang sama setiap harinya, ia menjadi seorang yang sangat ahli di bidang mekanik bengkel mobil. Di mata seorang mekanik pemula, dia menjadi seperti seorang profesornya para mekanik.

Lantas pertanyaannya, apakah dia ini bisa menjadi ahli di bidangnya karena memang pada dasarnya ia pintar atau karena banyaknya pengalaman yang ia alami? Anda pasti tahu jawabannya.

Jika kita ingin terapkan cerita di atas dengan bagaimana kita bisa menguasai pelajaran yang ada di sekolah, maka bisa kita tarik kesimpulan 3P yaitu:

PEMAHAMAN – PENGALAMAN – PENGULANGAN

Saya beri contoh penerapannya sedikit sebelum masuk ke teknis nya.

Ada seorang anak yang katakanlah dia bodoh (kata sekolahnya) di pelajaran matematika, misalkan tentang pecahan. Bagaimana caranya agar ia bisa menguasai pelajaran tersebut?

Caranya adalah kita ajak dia untuk paham dulu konsep-konsep tentang pecahan dari yang mudah-mudah dulu. Setelah ia paham ajak dia untuk menyelesaikan sebuah permasalahan tentang pecahan, misalkan ada sebuah kue yang akan dibagi untuk 3 orang, 1 untuk dia, 2 lainnya untuk adik-adiknya, dan seterusnya. Kemudian besok diulangi lagi sampai sekiranya dia telah benar-benar menguasai pelajaran yang lebih mudah terlebih dahulu kemudian lanjut ke tingkat pelajaran yang lebih tinggi secara bertahap.

Namun memang, di sini ada faktor lainnya yaitu waktu yang menentukan, karena sebagai manusia kita memiliki kecepatan yang berbeda di dalam penguasaan sebuah bidang keilmuan. Faktor yang tak kalah pentingnya adalah adanya sosok seorang mentor.

Anak tidak bisa dengan sendirinya melakukan hal-hal di atas. Anak atau kita yang dewasa sekalipun masih membutuhkan seorang mentor yang bisa membimbing arah belajar kita. Petinju profesional sekalipun tak mungkin tak ada pelatih. Pesebakbola nomor satu dunia pun tak mungkin tak ada pelatihnya. Mustahil rasanya ada orang yang bisa berhasil dengan sendirinya tanpa mentor. (meskipun ada)

Di sekolah, mentor bisa seorang guru, di rumah, mentornya adalah orang tua si anak, dan seterusnya.

Untuk lebih jelasnya, mari kita masuk ke pembahasan teknis cara belajarnya.

Pemahaman

  • Sumber-sumber pelajaran sangatlah bermacam-macam. Tergantung dari pihak sekolah menggunakan acuan bahan belajar seperti apa. Kebanyakan sih masih dari buku-buku paket pelajaran. Dan tidak semua buku memiliki kesamaan pelajaran walau kurrikulum yang digunakan seragam. Jadi intinya gunakan bahan ajar yang ditentukan oleh sekolah atau guru.
  • Siapkan buku catatan khusus untuk setiap pelajaran. Bisa secara online seperti One Note atau menggunakan buku biasa.
  • Pahami paragraf demi paragraf dan jangan meloncat ke paragraf selanjutnya jika belum paham.

Pengalaman

  • Buatlah rangkuman dengan metode Mind Map dari tiap paragraf atau beberapa paragraf yang mempresentasikan apa yang Anda pahami. Gunakan teknik visualisasi pola-pola bangun datar di dalam mind map. Usahkanlah menulis dengan kata-kata kita sendiri.

Pengulangan

  • Sebelum menambah mind map yang baru di hari berikutnya, ulangi terlebih dahulu pelajaran sebelumnya dari awal dengan cara:
    • berpura-puralah seperti seorang guru yang sedang menjelaskan pelajaran dengan menggunakan mind map yang telah di buat.
    • untuk lebih bagusnya rekam saja penjelasan Anda tadi melalu handphone dan upload lah ke Youtube atau Facebook pribadi.
  • Jangan dipaksakan untuk memulai pelajaran yang baru jika sebelumnya masih belum menguasai.
  • Ulangi tiap hari dan buatlah senyaman mungkin. Reward lah diri Anda misalkan jika telah belajar selama 30 menit, 10 menitnya main game atau semisalnya.

Contoh Pelajaran:

Cara membuat mind map nya:

Dengan cara seperti ini kita mentransformasikan kalimat-kalimat menjadi sedikit berwujud dengan menambahkan alur cara pemahamannya. Dan tentunya ini lebih baik ketimbang hanya membaca yang akhirnya akan lupa pada akhirnya.

Teknik ini bukan teknik menghafal meskipun hasil akhirnya nanti Anda akan hafal pelajaran tersebut secara alamiah.

Berbeda dengan menghafal di dalam hati, skemata yang terjadi tidak memiliki jaringan-jaringan yang bisa saling menghubungkan satu sama lainnya sehingga ilmu yang dihafal akan mudah menguap.

Kesimpulan

Menguasai sebuah pelajaran tidak bisa dengan cara menghafal di dalam hati, tetapi melalui pemahaman yang berulang-ulang akan membuat sebuah ilmu pelajaran melekat di dalam hati dan menjadi skemata yang memiliki jaringan-jaringan terhubung

Ini diharapkan agar secara naluriah kita bisa mengkoneksikan ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya dalam penyelesaian sebuah masalah.

Saya tahu kalimat saya barusan agak membingungkan, karena tulisan tersebut merupakan visualisasi di otak saya yang harus saya terjemahkan kembali ke dalam bentuk kata-kata.

Tapi kenapa Anda tidak paham?

Jelas sekali, karena kita akan kesulitan memahami sesuatu yang hanya disampaikan dengan tulisan semata.

Kita membutuhkan visualisasi di dalam kehidupan ini untuk memahami sebuah ilmu yang baru dan bagaimana cara kita menguasainya? Semuanya sudah saya coba tulis di atas. Semoga saja bisa tervisualisasikan kembali ke dalam otak Anda. Jika sudah tervisualisasikan, artinya Anda sudah paham dengan materi yang saya sampaikan di atas.