Belajar merupakan suatu proses penguasaan sebuah ilmu. Paling tidak ya itu menurut definisi saya pribadi. Sehingga proses belajar tidak diperuntukkan untuk mengasah sebuah keterampilan karena hal tersebut membutuhkan proses lainnya, yaitu proses latihan dan pengalaman.

Jika pada intinya adalah untuk menguasai sebuah bidang ilmu tertentu, maka sepertinya tidak ada cara lain yaitu adanya proses pengulangan dalam bentuk yang berbeda-beda. Masih belum dapat gambaran?

Di sekolah, proses belajar dilalui dengan cara mendengarkan penjelasan guru, menghafal pelajaran, latihan soal, dan ujian. Ya, singkatnya seperti itu. Tapi yang terjadi adalah setelah mengerjakan soal ujian, beberapa ilmu yang telah dikuasi menjadi lupa. Kecuali, kalau ilmu tadi dipakai lagi di dalam pelajaran berikutnya. Betul nggak?

Padahal memang, pelajaran di sekolah itu sebenarnya rata-rata bergerak linear. Artinya, jika Anda tidak menguasai pelajaran A, maka Anda akan kesulitan dalam menguasai Pelajaran B, dan seterusnya. Indikasinya adalah Anda terasa mudah belajar di tahun pertama tetapi sepertinya makin sulit di tahun-tahun terakhir.

Tak ayal lagi, proses belajar yang dilalui siswa seperti mimpi buruk yang ingin segera diakhiri. Tidak peduli kompetensi apa yang dimiliki yang penting ada selembar ijazah untuk di jual ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.

Tapi bagi mereka yang belajar dengan tujuan memang betul-betul ingin menguasai sebuah bidang pengetahuan, maka cara yang sekolah terapkan tersebut di atas sangat tidak tepat. Sehingga, Anda perlu keluar dari kotak keumuman dan menggunakan cara berpikir yang sedikit berbeda. Walau cara ini sebenarnya bisa saja diterapkan di sekolah, namun karena tujuan yang berbeda sehingga proses yang dilalui akan terasa timpang sebelah karena kurangnya motivasi si pelajar.

Ya, motivasi. Motivasi belajar itu sangat penting, bahkan mengalahkan metode belajar itu sendiri. Walau metode belajarnya terbukti 100% namun jika tidak dibarengi dengan semangat juang yang tinggi, hasilnya tetap saja nihil. Demikian sebaliknya, walau metode belajarnya tidak bagus-bagus amat, tapi karena motivasinya tinggi, bisa saja dia berhasil dengan mudah.

Jadi, secara garis besar, metode belajar yang tepat itu adalah dengan proses pengulangan. Pengulangan yang disitu dibarengi dengan mencoba untuk memahami. Bukan menghafal. Dan bukan juga mengulang dengan pola yang sama.

Mengulang dengan pola yang sama seperti mengerjakan kuis atau latihan yang sama tiap harinya. Walau diulang, tapi ketika ada soal ujian yang menggunakan perspektif berbeda, maka kita akan kebingungan dalam menjawab soal tersebut.

Saya kasi contoh. Ketika ada anak di beri soal untuk menghitung volume balok misalnya, dan di latih dengan soal yang sama terus menerus, maka dia cenderung hanya bisa menyelesaikan permasalahan yang sama dengan bahan yang sama. Coba, kalo dia diberi soal, misalkan, coba hitung volume lemari dengan objek aslinya. Sang murid akan menjadi agak bingung, karena tidak tersedia data-data yang biasa dikasi di dalam soal. Otak nya agak sulit berpikir bagaimana mencari data-data panjang, lebar, dan tinggi dari sebuah lemari, untuk kemudian dihitung volume nya.

Dari ilustrasi di atas, dapatlah dibuat sebuah kesimpulan sederhana. Jika Anda ingin mempelajari sesuatu, pahamilah pelajaran tersebut dari sudut pandang yang berbeda-beda. Pada proses tersebut, secara tidak langsung, Anda akan mengalami pengulangan demi pengulangan pemahaman pelajaran.

Secara praktek, saya beri contoh. Misalkan Anda ingin menguasai pelajaran integral. Sederhana sekali. Anda cukup menonton video-video pembelajaran tentang integral dari video-video yang berbeda dan tentu saja dari tutor-tutor yang berbeda-beda pula. Pahami setiap kali menonton video tersebut. Lakukan pengulangan walau Anda sudah paham kemarin, karena bisa saja hari ini Anda akan mendapatkan angle yang berbeda dalam cara memahami ilmu integral. Atau bahkan mendapatkan metode praktis dalam menyelesaikan masalah-masalah integral.

Atau jika Anda sedang mempelajari pemograman. Seperti saya saat ini. Saya membeli kursus-kursus yang berkaitan. Jika sudah selesai dari kursus yang satu, beralih lagi ke kursus yang serupa tapi dengan tutor berbeda. Walau saya harus mengulang lagi dari basic, tapi di situ akan tercipta skemata yang semakin kuat tanpa harus menghafal kode-kode yang diberikan.

Bagi setiap orang memang berbeda-beda, tetapi ini adalah sekedar inspirasi dan pengalaman pribadi saja. Semoga saja bisa menginspirasi.